Memori Sahabat


Rembulan, Awan, Luka

2 tahun telah berlalu, Rasanya seperti kemarin aku mengenalmu. Yah kamu, seseorang yg sangat berarti untukku !
Kala itu kita berkenalan saat hendak pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat magrib.
Dengan ramah kamu menyapaku dan memperkenalkan diri, kemudian kita saling bertukar cerita dan terjalin komunikasi yang baik.
Hari berganti minggu, dan minggu berganti Bulan, hingga akhirnya kita saling mengenal dan menjadi Sahabat.
Saat itu aku masih mahasiswa semester 3, sedang kamu mahasiswa baru. Kita sama-sama datang dari kampung halaman untuk melanjutkan studi perguruan tinggi di Kota.
Beruntungnya kita kuliah di jurusan yang sama dan tinggal di asrama yang sama.

Kurang lebih dua bulanan bersama-sama, banyak kenangan dan pengalaman hari-hari yang kami lalui.
Mulai mengenal karakter dan kepribadian masing", saling peduli dan menolong satu sama lain.
Memiliki visi yang sama dalam Hijrah dan ingin menjadi lebih baik lagi kedepannya.

Geraldi Sahadat Haq, dia lah sahabat yang di anugrahkan Allah untukku, sosok kawan yang pengertian dengan sifat kekanakkan ku, yang selalu menasihati ketika aku salah jalan, dan Insyaa Allah dia sahabat yang Sholeh dan taat pada Agama.
Setiap pertemuan Pasti ada perpisahan.
Malam itu cuaca sangat cerah, REMBULAN seakan tersenyum dengan hiasan ribuan bintang gemintang dilangit,
Aku yang iseng mengganggu mencoba menghiburnya yang kelelahan akibat kesibukannya sebagai ketua tingkat angkatannya. Seperti malam lainnya kami melakukan aktivitas bersama, makan malam, kerjain tugas kuliah, ngaji bareng dan kumpul dengan teman-teman yang lain.
Menjelang pagi, langit cerah berwarna biru, AWAN yang putih seperti kapas dan Matahari yang menyinari bumi dengan gagah, pertanda hari ini cuaca akan cerah.
Sore harinya, Geraldi pamit untuk pulang ke kampung halamannya yang sudah 3 bulan lamanya belum pulang sejak ia mendaftar kuliah di Kota.



Tak lama kemudian setelah waktu Isya, aku yang baru pulang dari pengajian, di kaget kan sebuah pesan whatsapp dari teman yang bersama nya pulang, pesan itu tertulis "Musrin, Geraldi meninggal, Geradi kecelakaan".
Duaarkkkkk.. Bak petir menyambar, hati ku saat itu sangat sesak, sakit dan tidak percaya seperti terkena prank ekstrim dari seorang teman.
Langsung ku telepon, diangkat nya sambil menangis dan berkata "Musrin, doakan Geraldi masuk Surga, dia sudah meninggal". Aku yang masih kaget, tidak mau percaya dan sontak marah padanya, "tolong jangan bilang dia meninggal, dia belum meninggal", sambil menangis dan berlari menuju ke mushola fisip tempat kami bernaung di organisasi kerohanian Islam di kampus.
Sesampainya di Mushola terlihat ramai, banyak teman-teman berkumpul di dalam namun belum ada yang tau berita naas tersebut.
Terkejutlah mereka semua, ketika melihat ku datang dengan menangis. Dan bertanya ada apa.. setelah memberitahukan, semua kaget seperti tak percaya.
Masuklah sebuah pesan grub organisasi bukti foto bahwa memang benar meninggal.
Menangislah kami semua, karna disini kami sudah seperti keluarga.
Malam itu juga, kami pergi ke kampung nya. Dalam perjalanan air mata tak berhenti meneteskan butiran-butirannya.
Rasanya seperti mimpi.. Sahabat yang ku anggap seperti adik, telah mendahului menghadap Allah SWT.
Setiba di depan rumah nya, terpampang bendera putih tanda adanya kedukaan. badan ini menjadi gemetaran dan pikiran bingung dengan yang terjadi. Ku liatlah dari kaca luar rumah, sosok tubuh yang diselimuti kain dan di kelilingi keluarga yang sedang berduka.
Begitu masuk memberi salam, ibu nya langsung memperkenalkan "ini dia teman sekamar nya Geraldi sudah datang",
Yaa.. Ibu nya sudah akrab dengan ku, karena beliau selalu datang menjenguk kami di asrama, dan sudah menganggap ku seperti anak nya juga.
Aku hanya bisa menangis ketika melihat jenazah sahabatku dan mendekati ibunya serta mencium tangannya sebagai rasa hormat ku, beliau mengusap kepalaku sambil berkata "Sabar Nak, Serahkan semuanya kepada Allah, ini sudah jalannya". Benar-benar sosok ibu yang tegar yang menyerahkan semuanya kepada Allah SWT.



Ke esokkan harinya mulai lah berdatangan orang-orang ke rumahnya.
Jenazah pun di makamkan jam 11 menjelang waktu siang.
Meski hati LUKA, mengikhlaskan adalah solusi terbaik dan mendoakan adalah jalan terbaik. Karena semua manusia akan pergi dari dunia ini sesuai waktu yang telah ditentukan.
Terimakasih sudah membaca, Semoga kamu dan kita semua diberikan sahabat-sahabat sholeh yang bisa menjadi syafaat di akhirat kelak dan jalan kita untuk menuju ke Syurganya Allah ta'ala !!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untukmu Sahabatku yang Telah Pergi